Oleh: Syafrial
Selasa tanggal 28 Juni 2011, sekitar 10 orang alumni SMKN 1 Ampek Angkek mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru UNP Padang melalui jalur prestasi. Salah satu seleksi penerimaan mahasiswa tersebut untuk program studi DKV dan Seni Rupa adalah test keterampilan menggambar. Tema yang diberikan oleh pihak panitia seleksi adalah Suasana Hari Kelulusan Sekolah,dan peserta bebas mengekspresikannya menjadi gambar/ilustrasi dengan berbagai media pada kertas ukuran A3.
Dari sekitar 60 orang peserta seleksi, rombongan SMKN 1 Ampek Angkek termasuk rombongan besar yang mengikuti seleksi tersebut. Dari dua program studi yang diikuti siswa SMKN 1 Ampek Angkek, khusus untuk jurusan DKV yang diikuti oleh lima orang peserta (dari jurusan Multimedia) tidak satupun yang berhasil. Sedangkan untuk jurusan Seni Rupa meloloskan 3 orang dari jurusan Kriya Kayu.
Berdasarkan pengamatan dan hasil seleksi di kampus Seni Rupa UNP, penyebab utama kegagalan siswa SMKN 1 Ampek Angkek untuk menuntut ilmu pada program studi DKV yang merupakan jurusan baru tersebut adalah kemampuan menggambar siswa. Sebagai salah satu jurusan baru yang sedang diburu peminat, terjadi persaingan yang ketat dengan alumni dari berbagai SMK (khusus kelompok seni)dari Sumatera bagian tengah dan SMU umum yang punya bakat khusus dalam bidang menggambar. Banyaknya peminat yang mendaftar melalui jalur prestasi tersebut pihak panitia benar-benar memilih peserta dengan kemampuan lebih dari yang lainnya, mengingat untuk jalur prestasi peluang yang tersedia juga sangat terbatas.
Dari hasil karya gambar yang dihasilkan terlihat jelas bahwa alumni SMKN 1 Ampek Angkek masih sangat lemah dalam menuangkan ide menjadi gambar seperti gambar ilustrasi hari kelulusan sekolah. Siswa sangat kesulitan untuk menggambar anatomi manusia dalam bentuk proporsional, ekspresi(mimik) dan gerak. Disamping objek manusia (objek bergerak) kelemahan lain yang menonjol adalah penguasaan komposisi atau bidang gambar, perspektif dan penggunaan media gambar berwarna. Sehingga hasil akhir dari karya seleksi untuk program studi DKV, alumni SMKN 1 Ampek Angkek masih sulit bersaing dengan Sekolah lainnya atau belum mampu memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh panitia seleksi.
Untuk program Studi Seni Rupa, persaingaan meluluskan 3 orang siswa SMKN 1 Ampek Angkek. Hasil yang dicapai tersebut tentu belum maksimal, mengingat priode sebelumnya SMKN 1 Ampek Angkek berhasil menempatkan sepuluh orang alumninya. Keberhasilan tersebut merupakan sebuah apresiasi dari Jurusan Seni Rupa atas prestasi yang telah ditorehkan oleh alumni sebelumnya yang mampu berprestasi den gan baik. Sesuai keterangan yang diberikan salah seorang dosen senior jurusan Seni Rupa Drs Eswendi HS, M.Pd, Untuk jurussan Seni Rupa dan Kriya kami sangat percaya dengan kemampuan mahasiswa alumni SMKN 1 Ampek Angkek. Mungkin kemampuan menggambarnya masih kurang tetapi prestasi dalam bidang kriya sangat membantu mereka untuk lulus di Program studi Seni Rupa.
Sebagai salah satu Perguruan tinggi Negeri terkemuka di Sumatera Barat, UNP tentu diburu oleh banyak peminat. Khusus untuk jurusan seni kriya SMKN 1 Ampek Angkek (Kria Tekstil dan Kria Kayu) merupakan sebuah peluang yang telah dibuka oleh alumni sebelumnya untuk dapat menimba ilmu diperguruan tinggi negeri seperti UNP dengan kepercayaan oleh program studi Seni Rupa UNP seperti yang diungkapkan oleh Drs Eswendi HS, M.Pd tersebut. Hal tersebut bukan berarti kemampuan menggambar untuk jurusan seni kriya di SMKN 1 Ampek Angkek telah lebih baik.(bloparia)
- Daftar Peserta PLPG Sertifikasi Guru Angkatan 9 Tahun 2011 - Admin
- Pengumuman Hasil PLPG Angkatan 5 - 6 Rayon 106 UNP 2011 -Admin
- API (Application Programming Interface) Dapodik - Amin Kartika
- Siswa Memukul Guru - Amin Kartika
Seputar Pendaftaran Siswa Baru
Tulisan Terbaru
Pelajari cara cepat mencari tulisan yang anda butuhkan DISINI
Loading
Jumat, 08 Juli 2011
Sabtu, 21 Mei 2011
Lukisan: Antara Memahami dan Menikmati
Erianto Anas-Alulturasi
Akrilik di atas kanvas, 90 x 90 cm, 2005
Menikmati Lukisan
Steppen C. Pepper, dalam bukunya The Principles of Appreciation (dalam Dharsono Sony Kartika), menjelaskan bahwa ada empat tingkat rasa ketertarikan seseorang dalam hubungannya dengan karya seni. Pertama adalah tingkat subjektif, yaitu rasa ketertarikan yang muncul karena pengaruh hubungan emosional seseorang dengan seniman pencipta karya seni. “Saya senang dengan lukisan ini karena dilukis oleh si Anu”. Kedua tingkat kultur. Rasa ketertarikan dipengaruhi oleh latar budaya yang dianut atau tempat tinggal seseorang. “Saya menyukai lukisan tersebut karena objeknya pemandangan (budaya) daerah Anu”. Ketiga, tingkat biological, yaitu rasa ketertarikan yang muncul secara refleks setelah mengamati sebuah lukisan. Meskipun bukan lagi karena pengaruh dari luar, sudah bersifat intrinsik, namun si penikmat tidak bisa menjelaskan kenapa ia menyukainya. “Pokoknya saya suka dengan lukisan ini”. Keempat, tingkat Absolut, yaitu rasa ketertarikan yang dipengaruhi oleh suatu pendapat atau keyakinan tertentu. Misalnya ada pendapat yang sudah umum diyakini: “Lukisan itu adalah indah”. Karena meyakini pernyataan ini, maka tanpa harus berusaha untuk memahaminya, secara refleks seseorang akan langsung menyukai sebuah lukisan.
Inti pandangan Pepper menggambarkan bahwa demikianlah pengaruh aspek psikologis terhadap karya seni. Yang terjadi adalah interaksi emosional seseorang dengan apa yang dilihatnya. Tidak soal apakah rasa tertarik itu murni muncul dari dalam diri atau disebabkan oleh faktor lain di luar dirinya, namun intinya seseorang tertarik karena ada hubungan pribadi antara dirinya dengan yang diamati. Tertarik karena pelukisnya, pilihan objeknya, atau merasa terharu dan terpesona, misalnya, merupakan bentuk respon emosional seseorang terhadap lukisan. Bahkan, lebih jauh, seseorang bisa tersenyum, tertawa, sedih bahkan menangis di depan sebuah lukisan. Inilah yang dikenal dengan teori pemancaran diri dari F. T. Vischer (The Liang Gie, 1976:54), dimana perasaan seseorang begitu jauh terlibat bahkan hanyut saat berhadapan dengan sebuah karya seni. Namun ketika ditanya kenapa itu terjadi, jawabannya bisa karena figur yang digambarkan mengingatkannya pada seseorang yang pernah menyakiti hatinya, atau karena suasana yang digambarkan telah membangkitkan gairah hidupnya yang pernah ia alami pada masa lalu. Meskipun efeknya berasal dari melihat lukisan, namun jawaban yang diberikan tetap berkisar tentang reaksi dirinya, atau hubungan anatra dirinya dengan lukisan, bukan tentang lukisan itu sendiri. Inilah yang diartikan sebagai menikmati, dimana yang melihat hanya terserap secara emosional pada objek yang dilihatnya, tetapi tidak mengerti apalagi bisa menjelaskan tentang apa yang dilihatnya.
Memahami Lukisan
Berbeda dengan menikmati, memahami lukisan justru bukan dengan melibatkan unsur psikologis (emosional). Jika pada menikmati seseorang bisa saja merasa lebur, terserap bahkan hanyut secara kejiwaan saat melihat sebuah lukisan, maka pada memahami, seseorang harus dalam keadaan sadar (diri). Harus ada jarak antara dirinya sebagai pengamat dengan lukisan sebagai objek yang diamati. Seperti dikatakan Edward Bullough (1800-1934), seseorang harus membebaskan diri dari segala pengaruh ketika akan memahami sebuah karya seni, karena keterlibatan emosional akan menyebabkan penilaiannya menjadi sekedar pembenaran dari kecendrungan pribadi. Karena itu penjelasan menyukai sebuah lukisan karena tertarik dengan pilihan objeknya, atau karena merasa terharu saat melihatnya, misalnya, bukan merupakan ungkapan dari sebuah pemahaman.
Memahami, lebih melibatkan sisi intelektual ketimbang emosional. Karena dalam prakteknya, memahami juga berarti memberikan apresiasi, dimana seseorang akan menafsirkan dan memberikan penilaian terhadap lukisan, hal ini juga berarti seseorang akan melakukan penalaran, dan ini tidak mungkin dilakukan dengan melibatkan emosi, melainkan harus dengan menggunkan logika dan argumentasi, sehingga sebuah pemahaman bisa dijabarkan secara meyakinkan dan bisa dipertanggung-jawabkan. Seseorang yang menyatakan bahwa sebuah lukisan sangat menarik karena objek dan warna yang digambarkan mengingatkannya pada suatu pengalaman tertentu, misalnya, bukanlah suatu penjelasan yang logis dan meyakinkan, tetapi merupakan penjelasan emosional, karena dasar penjelasannya masih hubungan antara pengalaman pribadi dengan unsur yang ada pada lukisan.
Karena yang dijelaskan bukanlah tentang respon psikis dari yang mengamati, melainkan adalah tentang karya itu sendiri, maka dalam memahami akan membutuhkan wawasan seni sebagai dasar untuk melakukan pemahaman. Paling tidak, diperlukan empat pengetahuan dasar untuk memahami sebuah lukisan. Pertama, pengetahuan akan unsur-unsur seni rupa, yaitu pengetahuan tentang garis, bidang, bentuk, tekstur, gelap terang dan warna. Semua unsur inilah yang membentuk sebuah lukisan. Sebuah lukisan akan bisa dinilai berdasarkan hal ini, yaitu bagaimana kesan, efek dan kualitas dari setiap unsur yang digambarkan. Kedua, penataan unsur-unsur seni rupa. Ini juga disebut dengan istilah komposisi, yaitu bagaimana pengaturan dan pengkombinasian semua unsur seni rupa. Dengan mengetahui hal ini, misalnya, akan bisa dinilai bagaimana komposisi bidang, warna dan apa yang menjadi pusat perhatian pada sebuah lukisan. Ketiga, aspek teknis dalam melukis, yaitu pengetahuan tentang alat, bahan dan teknik-teknik dalam melukis, sehingga sebuah lukisan bisa dinilai kualitasnya dari segi material sekaligus ketahanannya. Keempat, semiotika, yaitu pengetahuan tentang tanda dan simbol. Prinsip dasar dari kajian ini adalah bahwa setiap unsur seni rupa pada sebuah lukisan merupakan simbol dari makna tertentu, sehingga dengan menggunakan pengetahuan ini, akan bisa ditafsirkan apa kemungkinan makna yang tersirat dibalik sebuah lukisan.
***
Demikianlah antara menikmati dan memahami lukisan. Dalam prakteknya, tidak mudah memang untuk dipisahkan secara tegas, karena tidak tertutup kemungkinan yang satu bisa mempengaruhi yang lainnya. Kepekaan seseorang dalam menikmati lukisan, misalnya, pada akhirnya bisa dijadikan faktor pendukung dalam meningkatkan pemahaman agar lebih utuh dan mendalam. Begitu juga sebalikanya, pemahaman seseorang akan lukisan akan bisa memicu dan menambah kepekaannya dalam menikmati lukisan. Dengan catatan, yang bersangkutan bisa menjaga dan menukar keterlibataannya secara sadar di wilayah mana ia akan berada. Karena meskipun bisa saling mempengaruhi, keduanya tetap memiliki sifat, cara kerja dan manfaat yang berbeda: menikmati adalah untuk merasakan lezatnya sebuah lukisan, sedangkan memahami untuk mengerti kenapa lukisan itu enak dilihat.
Ketika Sigmund Freud Bicara Seni Lukis
Oleh: Erianto Anas
Sigmund Freud (1856-1939) sebenarnya bukanlah seorang kritikus seni, melainkan adalah seorang psikolog atau maha guru psikoanalisis. Kehadirannya, meminjam istilah Peter Gray, telah “mengusik tidur manusia”, karena teori-teorinya yang kontroversial telah berpengaruh besar dalam bidang psikologi dan filsafat. Namun meskipun sebagai seorang psikolog, ia kemudian juga menaruh minat terhadap seni.
Untuk memahami pandangannya tentang seni, kita tidak bisa mengelak dari dasar pandangannya tentang struktur psikis (kepribadian) manusia. Dalam kajian psikoanlisisnya, Freud membagi kesadaran manusia dalam tiga tahap. Pertama tahap sadar, yaitu tahap yang berisi segala sensasi, pikiran dan pengalamaan yang disadari. Kedua, tahap pra sadar, yaitu tahap yang berisi segala pengalaman yang tidak disadari, namun bisa dipanggil kembali untuk kemudian disadari. Tahap ini merupakan penghubung antara tahap tak sadar dengan tahap kesadaran. Sesuatu yang sudah terlupakan, misalnya, dengan menggunakan terapi tertentu, akan bisa diingat kembali untuk kemudian diangkat ke tahap yang disadari. Ketiga, tahap ketidaksadaran, yaitu tahap yang berisi hal-hal yang tidak disadari. Berbagai insting, impian dan ambisi manusia banyak tersimpan dan mengendap pada tahap ini, namun keberadaanya tidak disadari. Tahap ini juga dikenal dengan istilah alam bawah sadar.
Boleh dikatakan bahwa inti penekanan Freud di sini adalah masalah ketidaksadaran, kemudian meninjau bagaimana pengaruhnya terhadap segala sisi kehidupan mental manusia. Sehubungan dengan ini, Freud menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya ketimbang dari alam sadarnya. Artinya, sebagian besar dari apa yang kita lakukan lebih banyak tidak kita sadari dari pada kita sadari. Mungkin pendapat ini bisa mengejutkan. Tetapi bagi Freud, hal ini bukan lagi sebuah hipotesis (dugaan), melainkan suatu kenyataan yang sudah ia buktikan, seperti beberapa penelitian dan terapi yang pernah ia lakukan terhadap pasiennya yang menderita gangguan ingatan dan neurotik.
Kenapa seseorang, misalnya, bisa mengalami hilang ingatan atau gangguan kepribadian? Menurut Freud itu terjadi karena represi, yaitu proses menekan setiap insting, hasrat atau keinginan yang muncul dalam kesadaran. Represi ini terjadi karena suatu keinginan tidak bisa diwujudkan, mungkin karena tidak mampu mewujudkannya atau karena tidak sesuai dengan kondisi sosial dan etika tertentu. Akhirnya terbentuklah jurang antara keinginan dan kondisi yang ada, sehingga menimbulkan konflik dalam diri. Keinginan tersebut, yang semula muncul dengan spontan dan murni, berubah status menjadi keinginan terlarang. Karena sudah terlarang maka ia ditekan dan didesak ke luar dari kesadaran. Namun meskipun lenyap dari kesadaran, semua keinginan tersebut tidak pernah hilang, melainkan mengendap dan terus ada di alam bawah sadar, yang kemudian akan selalu mencari-cari celah dan kesempatan untuk menyembul keluar, dan pada saat keluar ia akan muncul dalam bentuk yang aneh dan tidak persis seperti keinginan semula. Dan itu terjadi tanpa disadari. Inilah proses yang menyebabkan terjadinya berbagai prilaku aneh, lupa ingatan, mimpi dan keseleo lidah.
Proses represi ini, yang terjadi secara berulang, mengakibatkan alam bawah sadar dipenuhi tumpukan berbagai hasrat yang terpendam, dan itu sudah belangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak. Karena itu, menurut Freud, masa awal kehidupan seseorang sangat menentukan dan paling berpengaruh dalam membentuk kepribadiannya di masa berikutnya. Dengan kata lain, apa yang menjadi kecendrungan seseorang di masa dewasa sesungguhnya merupakan pantulan dari berbagai hasrat yang tersembunyi di masa kanak-kanaknya.
Hal inilah yang menjadi titik tolak Freud dalam menafsirkan karya seni. Ia memahaminya bukan sebagaimana lazimnya yang dilakukan oleh para kritikus seni, yang melihat seni dari sisi artistik, melainkan dari sisi psikologisnya, yaitu bagaimana proses panjang yang terjadi dibalik terciptanya sebuah karya tersebut. Karena itu untuk memahami sebuah karya seni, bagi Freud harus dimulai dengan pertanyaan: Bagaimana seniman memperoleh materinya? Jawabannya adalah: riwayat psikis senimannya.
Pandangan Freud tentang seni lukis tergambar dalam bukunya The Da Vinci Memories. Dalam buku ini Frued menulis sejarah kehidupan Leonardo Da Vinci (1452-1519), seorang seniman besar (pelukis) dan ilmuwan Italia, dari sudut pandang psikoanlisa. Freud menyatakan bahwa masa kecil Leonardo bersama ibunya yang lembut penuh kasih merupakan masa awal pembentukan insting cinta dan seksualitas Leonardo. Namun semua itu hanya berlangsung seketika, karena terhenti sejak kepergian sang ibu dimana akhirnya Leonardo berubah status menjadi anak angkat dari isteri ayahnya yang baru. Kemudian ditambahkan bahwa kehidupan Leonardo boleh dikatakan tidak pernah tersentuh oleh cinta dan penyaluran hasrat seksualitasnya dengan seorang perempuan, bahkan Freud berpendapat bahwa Leonardo akhirnya tumbuh menjadi seorang homoseksual. Semua ini akhirnya menyebabkan proses perkembangan insting cinta dan seksualitas Leonardo terganggu dan mengalami represi (penekanan), sekaligus mempengaruhi kepribadiannya menjadi neurotik. Semua inilah yang akhirnya juga mempengaruhi lukisan-lukisan Leonardo di kemudian hari setelah ia dewasa.
Tentang lukisan Leonardo, Freud menulis: “Semua orang yang melihat lukisan-lukisan Leonardo akan selalu mengingat senyuman khas yang mempesona sekaligus membingungkan dari tokoh-tokoh yang dilukisnya”. Seorang Muther, kata Freud, pernah menulis: “Apa yang mempesona bagi orang yang melihatnya adalah kekuatan ghaib dibalik senyuman itu ….. yang tersenyum pada kita dengan menggairahkan, yang menatap ke depan dengan dingin tanpa jiwa, namun tak seorang pun mampu memecahkan teka-teki senyumannya, tidak seorang pun mampu membaca pikirannya. Semuanya kelihatan misterius seperti mimpi, yang diwarnai dengan sensualitas yang penuh birahi”. Namun bagi Freud, semua itu bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena dengan meninjau lembaran sejarah masa kecil Leonardo, maka senyuman khas bibir para tokoh dalam lukisan itu akan terungkap dengan sendirinya.
Bagi Freud, semua itu adalah ekspresi dari endapan masa lalu Leonardo yang tersimpan di alam bawah sadarnya. Senyum Monalisa, termasuk juga senyum wanita pada setiap figur lukisan Leonardo, tidak lain merupakan gambaran tentang ibu Leonardo sendiri, Caterina. Ibunya-lah yang memiliki senyum misterius itu, yang pernah dia lupakan namun dia temukan kembali pada senyum Florentine, yang menjadi model pada lukisan Monalisa. Kenangan bersama ibunya dimasa kecil, yang tidak pernah terulang, muncul kembali setelah ia dewasa. Hasratnya untuk mencium bibir seorang perempuan, yang pernah ia rasakan saat ibunya membelai dan mengecupnya dengan penuh kegairahan, telah lama terpendam sebagai obsesi terlarang dan terpendam. Maka setelah ia dewasa dan menjadi seorang pelukis, hal itu dilakukannya dengan kuas pada kanvas dengan melukis senyuman sebagai pusat perhatian dari setiap lukisannya. Itulah kompensasi dari hasrat Leonardo.
Demikianlah Freud menafsirkan sebuah lukisan. Apa yang di ekspresikan seorang pelukis di atas kanvas ditafsirkan sebagai simbol dari berbagai hasratnya yang tersembunyi sejak masa kanak-kanak. Ia menolak, seperti dikatakan Peter Gray, untuk menjadikan kreativitas seni sebagai bahan kajiannya. Karena itu berbagai pertimbangan artistik oleh seorang pelukis, seperti yang juga dilakukan para kritikus seni dalam menilai sebuah karya seni, semisal soal komposisi, aksentuasi, psikologi warna dan seterusnya tidak akan menjadi pertimbangan bagi Freud dalam memahami sebuah lukisan. Baginya, apapun yang digambarkan seorang pelukis, ujung-ujungnya tetap ditarik sebagai pantulan dari pengalaman masa lalu pelukisnya, meskipun hal itu tidak disadari atau tidak diakui oleh pelukisnya. Karena sesuai dengan teori psikoanalisanya, apa yang digambarkan seorang seniman tetap merupakan refleks dari fantasi-fantasi yang terpedam dalam alam bawah sadarnya.

Sigmund Freud (1856-1939) sebenarnya bukanlah seorang kritikus seni, melainkan adalah seorang psikolog atau maha guru psikoanalisis. Kehadirannya, meminjam istilah Peter Gray, telah “mengusik tidur manusia”, karena teori-teorinya yang kontroversial telah berpengaruh besar dalam bidang psikologi dan filsafat. Namun meskipun sebagai seorang psikolog, ia kemudian juga menaruh minat terhadap seni.
Untuk memahami pandangannya tentang seni, kita tidak bisa mengelak dari dasar pandangannya tentang struktur psikis (kepribadian) manusia. Dalam kajian psikoanlisisnya, Freud membagi kesadaran manusia dalam tiga tahap. Pertama tahap sadar, yaitu tahap yang berisi segala sensasi, pikiran dan pengalamaan yang disadari. Kedua, tahap pra sadar, yaitu tahap yang berisi segala pengalaman yang tidak disadari, namun bisa dipanggil kembali untuk kemudian disadari. Tahap ini merupakan penghubung antara tahap tak sadar dengan tahap kesadaran. Sesuatu yang sudah terlupakan, misalnya, dengan menggunakan terapi tertentu, akan bisa diingat kembali untuk kemudian diangkat ke tahap yang disadari. Ketiga, tahap ketidaksadaran, yaitu tahap yang berisi hal-hal yang tidak disadari. Berbagai insting, impian dan ambisi manusia banyak tersimpan dan mengendap pada tahap ini, namun keberadaanya tidak disadari. Tahap ini juga dikenal dengan istilah alam bawah sadar.
Boleh dikatakan bahwa inti penekanan Freud di sini adalah masalah ketidaksadaran, kemudian meninjau bagaimana pengaruhnya terhadap segala sisi kehidupan mental manusia. Sehubungan dengan ini, Freud menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya ketimbang dari alam sadarnya. Artinya, sebagian besar dari apa yang kita lakukan lebih banyak tidak kita sadari dari pada kita sadari. Mungkin pendapat ini bisa mengejutkan. Tetapi bagi Freud, hal ini bukan lagi sebuah hipotesis (dugaan), melainkan suatu kenyataan yang sudah ia buktikan, seperti beberapa penelitian dan terapi yang pernah ia lakukan terhadap pasiennya yang menderita gangguan ingatan dan neurotik.
Kenapa seseorang, misalnya, bisa mengalami hilang ingatan atau gangguan kepribadian? Menurut Freud itu terjadi karena represi, yaitu proses menekan setiap insting, hasrat atau keinginan yang muncul dalam kesadaran. Represi ini terjadi karena suatu keinginan tidak bisa diwujudkan, mungkin karena tidak mampu mewujudkannya atau karena tidak sesuai dengan kondisi sosial dan etika tertentu. Akhirnya terbentuklah jurang antara keinginan dan kondisi yang ada, sehingga menimbulkan konflik dalam diri. Keinginan tersebut, yang semula muncul dengan spontan dan murni, berubah status menjadi keinginan terlarang. Karena sudah terlarang maka ia ditekan dan didesak ke luar dari kesadaran. Namun meskipun lenyap dari kesadaran, semua keinginan tersebut tidak pernah hilang, melainkan mengendap dan terus ada di alam bawah sadar, yang kemudian akan selalu mencari-cari celah dan kesempatan untuk menyembul keluar, dan pada saat keluar ia akan muncul dalam bentuk yang aneh dan tidak persis seperti keinginan semula. Dan itu terjadi tanpa disadari. Inilah proses yang menyebabkan terjadinya berbagai prilaku aneh, lupa ingatan, mimpi dan keseleo lidah.
Proses represi ini, yang terjadi secara berulang, mengakibatkan alam bawah sadar dipenuhi tumpukan berbagai hasrat yang terpendam, dan itu sudah belangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak. Karena itu, menurut Freud, masa awal kehidupan seseorang sangat menentukan dan paling berpengaruh dalam membentuk kepribadiannya di masa berikutnya. Dengan kata lain, apa yang menjadi kecendrungan seseorang di masa dewasa sesungguhnya merupakan pantulan dari berbagai hasrat yang tersembunyi di masa kanak-kanaknya.
Hal inilah yang menjadi titik tolak Freud dalam menafsirkan karya seni. Ia memahaminya bukan sebagaimana lazimnya yang dilakukan oleh para kritikus seni, yang melihat seni dari sisi artistik, melainkan dari sisi psikologisnya, yaitu bagaimana proses panjang yang terjadi dibalik terciptanya sebuah karya tersebut. Karena itu untuk memahami sebuah karya seni, bagi Freud harus dimulai dengan pertanyaan: Bagaimana seniman memperoleh materinya? Jawabannya adalah: riwayat psikis senimannya.
Pandangan Freud tentang seni lukis tergambar dalam bukunya The Da Vinci Memories. Dalam buku ini Frued menulis sejarah kehidupan Leonardo Da Vinci (1452-1519), seorang seniman besar (pelukis) dan ilmuwan Italia, dari sudut pandang psikoanlisa. Freud menyatakan bahwa masa kecil Leonardo bersama ibunya yang lembut penuh kasih merupakan masa awal pembentukan insting cinta dan seksualitas Leonardo. Namun semua itu hanya berlangsung seketika, karena terhenti sejak kepergian sang ibu dimana akhirnya Leonardo berubah status menjadi anak angkat dari isteri ayahnya yang baru. Kemudian ditambahkan bahwa kehidupan Leonardo boleh dikatakan tidak pernah tersentuh oleh cinta dan penyaluran hasrat seksualitasnya dengan seorang perempuan, bahkan Freud berpendapat bahwa Leonardo akhirnya tumbuh menjadi seorang homoseksual. Semua ini akhirnya menyebabkan proses perkembangan insting cinta dan seksualitas Leonardo terganggu dan mengalami represi (penekanan), sekaligus mempengaruhi kepribadiannya menjadi neurotik. Semua inilah yang akhirnya juga mempengaruhi lukisan-lukisan Leonardo di kemudian hari setelah ia dewasa.
Tentang lukisan Leonardo, Freud menulis: “Semua orang yang melihat lukisan-lukisan Leonardo akan selalu mengingat senyuman khas yang mempesona sekaligus membingungkan dari tokoh-tokoh yang dilukisnya”. Seorang Muther, kata Freud, pernah menulis: “Apa yang mempesona bagi orang yang melihatnya adalah kekuatan ghaib dibalik senyuman itu ….. yang tersenyum pada kita dengan menggairahkan, yang menatap ke depan dengan dingin tanpa jiwa, namun tak seorang pun mampu memecahkan teka-teki senyumannya, tidak seorang pun mampu membaca pikirannya. Semuanya kelihatan misterius seperti mimpi, yang diwarnai dengan sensualitas yang penuh birahi”. Namun bagi Freud, semua itu bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena dengan meninjau lembaran sejarah masa kecil Leonardo, maka senyuman khas bibir para tokoh dalam lukisan itu akan terungkap dengan sendirinya.
Bagi Freud, semua itu adalah ekspresi dari endapan masa lalu Leonardo yang tersimpan di alam bawah sadarnya. Senyum Monalisa, termasuk juga senyum wanita pada setiap figur lukisan Leonardo, tidak lain merupakan gambaran tentang ibu Leonardo sendiri, Caterina. Ibunya-lah yang memiliki senyum misterius itu, yang pernah dia lupakan namun dia temukan kembali pada senyum Florentine, yang menjadi model pada lukisan Monalisa. Kenangan bersama ibunya dimasa kecil, yang tidak pernah terulang, muncul kembali setelah ia dewasa. Hasratnya untuk mencium bibir seorang perempuan, yang pernah ia rasakan saat ibunya membelai dan mengecupnya dengan penuh kegairahan, telah lama terpendam sebagai obsesi terlarang dan terpendam. Maka setelah ia dewasa dan menjadi seorang pelukis, hal itu dilakukannya dengan kuas pada kanvas dengan melukis senyuman sebagai pusat perhatian dari setiap lukisannya. Itulah kompensasi dari hasrat Leonardo.
Demikianlah Freud menafsirkan sebuah lukisan. Apa yang di ekspresikan seorang pelukis di atas kanvas ditafsirkan sebagai simbol dari berbagai hasratnya yang tersembunyi sejak masa kanak-kanak. Ia menolak, seperti dikatakan Peter Gray, untuk menjadikan kreativitas seni sebagai bahan kajiannya. Karena itu berbagai pertimbangan artistik oleh seorang pelukis, seperti yang juga dilakukan para kritikus seni dalam menilai sebuah karya seni, semisal soal komposisi, aksentuasi, psikologi warna dan seterusnya tidak akan menjadi pertimbangan bagi Freud dalam memahami sebuah lukisan. Baginya, apapun yang digambarkan seorang pelukis, ujung-ujungnya tetap ditarik sebagai pantulan dari pengalaman masa lalu pelukisnya, meskipun hal itu tidak disadari atau tidak diakui oleh pelukisnya. Karena sesuai dengan teori psikoanalisanya, apa yang digambarkan seorang seniman tetap merupakan refleks dari fantasi-fantasi yang terpedam dalam alam bawah sadarnya.






